Kabupaten Cirebon– Satpol PP Kabupaten Cirebon menertibkan belasan lapak pedagang kaki lima (PKL) di trotoar sisi Jalan Fatahilah, Kecamatan Weru, Senin (3/8/2026).
Petugas menyisir kawasan tersebut mulai dari depan kantor Kecamatan Weru hingga simpang empat Plered dan sekitar Pasar Pasalaran. Namun di balik itu, para pedagang mengungkap fakta adanya pungutan liar oleh oknum.
Salah seorang pedagang, Fitri, mengaku telah berjualan selama empat tahun di depan SDN 1 Weru Kidul. Selama itu pula, ia mengaku rutin membayar uang atas permintaan seorang oknum yang mengklaim memiliki hak atas lapak yang ditempatinya.
Menurut Fitri, awalnya oknum tersebut meminta setoran sebesar Rp300 ribu per bulan. Namun nominal tersebut terus meningkat menjadi Rp400 ribu, hingga akhirnya mencapai Rp500 ribu per bulan.
“Awalnya Rp300 ribu, kemudian naik jadi Rp400 ribu sampai Rp500 ribu per bulan,” kata perempuan yang berdagang ayam bakar itu.
Tak hanya meminta uang, Fitri mengaku oknum tersebut juga kerap meminta bensin dari usaha dagang bensin eceran yang dijalankannya berdampingan dengan ayam bakar.
Dalam sebulan, ia mengaku harus memberikan sekitar delapan botol bensin kepada oknum tersebut.
“Kalau tidak minta uang, minta bensin. Padahal bensin itu modal saya sendiri. Sekarang setelah ada penertiban seperti ini, saya berharap ada pembenahan,” katanya.
Ancam Pedagang Bila Tak Setor
Pedagang lainnya, Farida, menyampaikan hal yang sama. Selama tiga tahun berjualan di lokasi tak jauh dari lapak Fitri, ia juga harus membayar setoran sebesar Rp400 ribu kepada oknum tersebut setiap bulannya.
Namun sejak awal tahun 2026 ia memutuskan berhenti membayar karena mempertanyakan dasar pungutan tersebut. Walaupun oknum itu masih saja mendatanginya untuk menagih setoran.
“Saya bilang ini tanah pemerintah, kenapa harus bayar? Tapi oknum itu tetap datang menagih,” kata perempuan yang juga berdagang bensin eceran. Sang oknum mengancam, jika tak setor, maka lapak tersebut akan dipakai orang lain.
Sementara itu, dalam penertiban tersebut, tidak ada perlawanan dari para pedagang. Petugas melakukan sterilisasi terhadap kawasan itu karena Pemprov Jawa Barat telah membangun trotoar menjadi lebih rapi.
Sendi



